Pertemuan Menlu G20 Tidak Bermakna: Banyak Insiden dan Sebatas Seremonial Nihil Hasil

- Pewarta

Senin, 11 Juli 2022 - 20:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi pertemuan menteri luar negeri Foreign Ministers’ Meeting atau FMM G20 di Bali. (Dok. G20.org)

Ilustrasi pertemuan menteri luar negeri Foreign Ministers’ Meeting atau FMM G20 di Bali. (Dok. G20.org)

BISNIS NEWS – Pada tanggal Kamis-Jumat, 7-8 Juli kemarin Indonesia baru saja menggelar pertemuan menteri luar negeri Foreign Ministers’ Meeting atau FMM G20 di Bali.

Acara tersebut diisi sejumlah pertemuan bilateral dan forum inti dengan topik penguatan multilateralisme di tengah invasi Rusia ke Ukraina serta dampak globalnya.

Pertemuan yang menelan anggaran yang besar tersebut boleh dikata tidak menghasilkan keputusan penting apa pun alias seremonial belaka tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Banyak insiden insiden yang justru membuat pertemuan menteri menteri luar negeri ini tidak berjalan efektif.

Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss absen dalam FMM G20 Bali di Hotel Mulia, Jumat.

Truss pulang ke London lebih cepat setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan mengundurkan diri Kamis, 7 Juli 2022.

Delegasi Inggris dipimpin oleh Tim Barrow, Wakil Sekretaris Permanen Kedua dan Direktur Politik Kantor Persemakmuran dan Pembangunan Luar Negeri Inggris.

Kedutaan Inggris di Jakarta mengkonfirmasi Truss terbang dari Bali ke London pada Jumat pagi sebelum forum dimulai.

Negara-negara anggota G7 tidak hadir dalam resepsi makan malam di Ayana Resort and Spa Bali, pada Kamis, menjelang pertemuan para menteri luar negeri anggota G20.

Dalam kegiatan informal itu, delegasi dari negara anggota G7 merasa tidak nyaman karena ada kehadiran Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

“Pada saat kami bicara bahwa kami berusaha menciptakan situasi yang comfortable bagi semua – pada saat itu negara-negara G7 menyatakan tidak dapat hadir.”

“Di dalam resepsi informal yang opsional tersebut, mereka semua (mengatakan) pada kami,” kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi saat ditanya media soal itu di Hotel Mulia, Bali, Kamis malam.

Ketidaknyamanan delegasi menteri luar negeri ini harusnya dapat dicarikan solusi terbaiknya.

Karena pertemuan ini sebetulnya adalah upaya meredakan ketegangan yang ada di kawasan bukan justru menciptakan ketegangan baru karena forum ini.

Seorang wartawan ZDF, televisi layanan publik Jerman berbasis di Mainz, Rhineland-Palatinate, meneriaki Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov saat menghadiri FMM G20 di Hotel Mulia, Bali, Jumat.

“Kapan anda menghentikan perang?” kata wartawan ZDF itu saat Lavrov menuju booth foto. “Mengapa anda memulai perang?” sahut wartawan lainnya.

Lavrov sendiri tidak acuh dengan teriakan tersebut. Dia menemui dan bersalaman dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang menyambutnya.

Setelah insiden itu, panitia bergegas mengeluarkan wartawan ZDF tersebut.

Insiden tersebut harusnya dapat dicegah oleh Kemenlu. Karena jangan sampai apa yang dilakukan oleh media tersebut justru menggangu jalannya pertemuan tersebut.

Terutama delegasi dari Kementerian Luar Negeri Rusia yang Menteri Luar Negerinya hadir pada pertemuan tersebut.

Yang kemudian berbagai hal tersebut membuat Sergei Lavrov memilih Walk Out setelah dia menyampaikan pandangannya.

Lavrov yang bersedia diwawancara jurnalis pada siang hari mencela negara-negara Barat karena kritik masifnya di G20.

Lavrov mengatakan, forum terlalu fokus pada perang Ukraina dan Barat menyia-nyiakan kesempatan untuk mengatasi masalah ekonomi global.

“‘Agresor’, ‘penyerbu’, ‘penjajah’ – kami mendengar banyak hal hari ini,” kata Lavrov kepada wartawan.

Opini: Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute.***

Berita Terkait

Jeddah Jadi Pusat Diskusi Global tentang Sejarah dan Masa Depan Haji
Netanyahu Buka Panggung PBB Dengan Sindiran Prabowo, Diplomasi Menggantung
Tiongkok vs Filipina: Sengketa Laut Cina Selatan Masuki Babak Baru
KTT BRICS Rio: Reformasi Global untuk Dunia Lebih Adil dan Terbuka
Tantangan Baru BRICS: Ketidakhadiran Xi Jinping di Tengah Tekanan AS
Del Monte Bangkrut Rp 162 T, Raksasa Kaleng AS Tersungkur!
Israel Kehabisan Amunisi, Iran Bertahan, AS Serang, Dunia Terancam
Duel Elon Musk dan Donald Trump: Dampaknya pada Kebijakan Energi Baru dan Pasar Saham Amerika

Berita Terkait

Selasa, 11 November 2025 - 21:49 WIB

Jeddah Jadi Pusat Diskusi Global tentang Sejarah dan Masa Depan Haji

Minggu, 28 September 2025 - 10:06 WIB

Netanyahu Buka Panggung PBB Dengan Sindiran Prabowo, Diplomasi Menggantung

Senin, 14 Juli 2025 - 10:25 WIB

Tiongkok vs Filipina: Sengketa Laut Cina Selatan Masuki Babak Baru

Senin, 7 Juli 2025 - 10:22 WIB

KTT BRICS Rio: Reformasi Global untuk Dunia Lebih Adil dan Terbuka

Senin, 7 Juli 2025 - 07:39 WIB

Tantangan Baru BRICS: Ketidakhadiran Xi Jinping di Tengah Tekanan AS

Berita Terbaru