Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana: Strategi Arsjad Rasjid untuk Indonesia

Di Paramadina, Arsjad ungkap strategi 3G untuk atasi daya beli rendah, industri lesu, dan migrasi tenaga kerja ke luar negeri

- Pewarta

Selasa, 22 Juli 2025 - 08:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Arsjad Rasjid serukan reformasi ekonomi lewat strategi 3G dalam forum Meet The Leaders Universitas Paramadina. (Dok. Universitas Paramadina)

Arsjad Rasjid serukan reformasi ekonomi lewat strategi 3G dalam forum Meet The Leaders Universitas Paramadina. (Dok. Universitas Paramadina)

INDONESIA memasuki masa kritis dengan jumlah penduduk usia produktif mencapai puncaknya, namun daya serap pasar kerja justru melemah, demikian peringatan keras Arsjad Rasjid di Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu (19/7/2025).

Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia itu menyebut kondisi ini sebagai “malapetaka demografi” jika pemerintah gagal menciptakan lapangan kerja formal dan meningkatkan daya beli rakyat.

Arsjad menyampaikan pandangannya dalam forum Meet The Leaders yang dihadiri mahasiswa dan publik.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tema diskusi “Driving Inclusive Growth: Innovation, Industrialization and Energy Transition for Job Creation” dipilih untuk menjawab isu aktual tentang perlambatan ekonomi, migrasi tenaga kerja terampil, serta stagnasi industrialisasi dalam negeri.

“Kalau kita tidak segera mengatasi persoalan pengangguran dan rendahnya daya beli, bonus demografi yang mestinya jadi berkah akan berubah jadi bencana,” ujar Arsjad di hadapan peserta, Sabtu (19/7/2/2025).

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka memang turun tipis menjadi 5%, tetapi jumlah absolut pengangguran justru meningkat hingga 7,28 juta orang, dengan 60% tenaga kerja masih berada di sektor informal.

Rendahnya Daya Beli Jadi Akar Masalah Ekonomi Nasional Saat Ini

Dalam paparannya, Arsjad menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bertahan di level 4,7% belum cukup untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat secara merata.

“Masyarakat seolah tidak punya uang, daya beli turun, dan ini berbahaya karena memukul konsumsi yang selama ini menopang pertumbuhan,” kata Arsjad.

Ia menjelaskan hanya ada dua sumber utama penghasilan masyarakat saat ini: keuntungan usaha dari berdagang dan upah pekerja.

Jika keduanya tidak ditopang kebijakan yang menciptakan lebih banyak peluang usaha dan pekerjaan formal, pertumbuhan ekonomi akan terhenti.

Data Bank Indonesia menyebut Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada kuartal II 2025 turun 8 poin dibanding tahun lalu, mencerminkan melemahnya daya beli.

Investasi Asing Tak Cukup, Industri Harus Didorong Bernilai Tambah

Arsjad juga menyoroti bahwa investasi asing yang masuk ke Indonesia cenderung padat modal, bukan padat karya, sehingga tidak banyak menyerap tenaga kerja.

“Padahal industri yang kita butuhkan adalah yang bisa menyerap banyak tenaga kerja, memberi nilai tambah, dan merata ke luar Jawa,” katanya.

Ia mendorong hilirisasi mineral, reindustrialisasi manufaktur strategis, hingga ekspansi industri berbasis UMKM di luar Pulau Jawa sebagai pendorong utama.

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia sebelumnya mengakui bahwa birokrasi perizinan hingga masalah lahan masih menjadi hambatan utama bagi investor, seperti diungkapnya di laman resmi Kementerian Investasi RI.

Transisi Energi Jadi Peluang Ekonomi, Bukan Ancaman Baru

Selain industri, Arsjad juga melihat transisi energi sebagai peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi baru jika dirancang dengan matang dan melibatkan masyarakat.

“Go Green artinya kita harus siap dengan reskilling, pembiayaan hijau untuk UMKM, dan memastikan masyarakat lokal ikut menikmati manfaatnya,” ujarnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan proyek transisi energi bisa membuka hingga 2 juta pekerjaan baru di sektor energi terbarukan pada 2030.

Migrasi Tenaga Kerja Terampil ke Luar Negeri Semakin Mengkhawatirkan

Fenomena migrasi tenaga kerja terampil juga disorot Arsjad, yang menyebut banyak perawat, ahli IT, dan insinyur memilih bekerja di luar negeri karena upah jauh lebih tinggi.

“Bukan berarti mereka tidak cinta Indonesia, tapi karena di luar negeri bisa dapat 5 sampai 8 kali lipat gaji dengan karier yang lebih jelas,” katanya.

Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah menambahkan bahwa kondisi ini menunjukkan rendahnya daya saing upah dalam negeri.

Langkah-Langkah Lanjutan dan Penegakan Kebijakan Diperlukan Segera

Forum Meet The Leaders diakhiri dengan pesan penting bahwa reformasi SDM, kebijakan industrialisasi hijau, dan transisi energi inklusif harus segera diimplementasikan pemerintah.

Universitas Paramadina berencana merilis buku putih hasil diskusi ini sebagai masukan kebijakan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan terkait pada kuartal IV tahun ini.

KADIN juga menjadwalkan pertemuan lanjutan dengan pelaku industri, serikat pekerja, dan pemerintah daerah untuk merumuskan strategi jangka pendek.

“Jika kita tidak bertindak sekarang, kita akan kehilangan momentum bonus demografi, dan itu tidak boleh terjadi,” tutup Arsjad.***

Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Infoemiten.com dan Panganpost.com.

Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media Infoseru.com dan Poinnews.com.

Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Jatengraya.com dan Hallobandung.com.

Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.

Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.

Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com

Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.

Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.

Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.

Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center

 

Berita Terkait

PR Newswire Gandeng PSPI Perluas Jangkauan Distribusi Press Release ke Kanal Berita Indonesia
Bank Jakarta Resmikan Biodigester Komunal di Pekayon, Hadirkan Solusi Sanitasi Modern dan Energi Terbarukan
TEI ke-40 Resmi Ditutup, Mendag Busan: Transaksi Lewati Target, Capai USD 22,80 Miliar
Bank Jakarta Raih Penghargaan Regional Banking ESG Excellence Awards 2025
Patriot Bond Rp50 Triliun: Strategi Danantara Biayai Energi Terbarukan Indonesia
Keputusan RUALB PROPAMI Dinilai Strategis untuk Adaptasi Industri Pasar Modal
Bank Jakarta Hadirkan Dukungan Tabungan bagi Finalis dan Pemenang Abang None 2025
BRI Apresiasi Kepercayaan Pemerintah dalam Penempatan Dana Rp55 Triliun, Fokus Salurkan Kredit UMKM dan Program Prioritas Pemerintah

Berita Terkait

Selasa, 18 November 2025 - 14:32 WIB

PR Newswire Gandeng PSPI Perluas Jangkauan Distribusi Press Release ke Kanal Berita Indonesia

Jumat, 14 November 2025 - 16:43 WIB

Bank Jakarta Resmikan Biodigester Komunal di Pekayon, Hadirkan Solusi Sanitasi Modern dan Energi Terbarukan

Senin, 20 Oktober 2025 - 17:48 WIB

TEI ke-40 Resmi Ditutup, Mendag Busan: Transaksi Lewati Target, Capai USD 22,80 Miliar

Jumat, 17 Oktober 2025 - 13:24 WIB

Bank Jakarta Raih Penghargaan Regional Banking ESG Excellence Awards 2025

Selasa, 14 Oktober 2025 - 10:59 WIB

Patriot Bond Rp50 Triliun: Strategi Danantara Biayai Energi Terbarukan Indonesia

Berita Terbaru