Percuma Juga Sistem Subsidi Toh Nanti Kompensasi BBM Bisa Berlipat Ganda dari Subsidinya

- Pewarta

Selasa, 23 Agustus 2022 - 14:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bahan Bakar Minyak (BBM ). (Pexels.com/gustavo fring)

Bahan Bakar Minyak (BBM ). (Pexels.com/gustavo fring)

BISNIS NEWS – Baru baru ini pemerintah telah menyampaikan nota keuangan dihdapan DPR. Seperti biasa nota keuangan yang disampaikan berisi asumsi asumsi.

Kebetulan semua asumsi yang disampaikan selalu salah alias jauh panggang dari api.

Ini kalau peramal, maka gelar pemerintah bisa dikatakan peramal palsu. Sebenarnya tidak punya kemampuan meramal, namun memaksakan diri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Misalnya tahun 2022 pemerintah buat asumsi harga minyak 60 dolar per barel, faktanya harga minyal tembus 120 dolar per barel.

Demikian juga asumsi nilai tukar juga salah telak jauh. Akibnatnya yang lain ikut salah. Nilai subsidi BBM salah, nilai subsidi listrik salah, dan lain sebagainya.

Sekarang pemerintah membuat lagi asumsi. Mari kita lihat asumsinya :

i. Sejalan dengan harga minyak mentah global, ICP tahun 2023 diperkirakan berada pada kisaran US$90 per barel.

ii. Dengan berbagai tantangan dan peluang tersebut, secara umum rata-rata nilai tukar rupiah tahun 2023 diasumsikan akan bergerak pada kisaran Rp14.750 per dolar AS.

iii. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada tahun 2023 diperkirakan mencapai 5,2 persen.

iv. Dengan berbagai faktor-faktor, laju inflasi 2023 diperkirakan mencapai 3,3 persen (yoy), berada dalam rentang sasaran inflasi 3,0 ± 1,0 persen.

Jika melihat asumsi di atas maka tampak sebagai karangan bebas. Bagaimana mungkin keadaan sangat dinamis, namun asumsinya normal normal saja

Seolah dunia tidak sedang perang, tidak ada issue transisi energi, tidak ada climate change, semua normal wajar.

Jika dilihat seharusnya asumsi tersebut tidak usah dibuat karena hanya mengacaukan pikiran mereka sendiri.

Sejak semula begitu pemerintah membuat asumsi, maka setelah itu langsung membuat kesalahan. Kesalahan pertama adalah menghitung subsidi BBM.

Dikatakan bahwa perhitungan anggaran subsidi jenis BBM tertentu dan LPG tabung 3 kg tahun 2023 tersebut menggunakan asumsi dan parameter, antara lain: (1) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan ICP; (2) subsidi terbatas minyak solar.

Kalimat berikutnya langsung salah. Membuat parameter subsidi terbatas terhadap solar.

Nilainya sebesar Rp1000/liter. Pembuat angka subsidi solar Rp. 1000/liter pasti tidak tau dari mana angka Rp. 1000 rupiah per liter tersebut.

Rilisbisnis.com mendukung program publikasi press release di media khusus ekonomi & bisnis untuk memulihankan citra yang kurang baik ataupun untuk meningkatan reputasi para pebisnis/entrepreneur, korporasi, institusi ataupun merek/brand produk.

Kalau menetapkan nilai subsidi Rp. 1000/liter, buat apa bertele telah membuat asumsi harga minyak mentah dan nilai tukar.

Berapapun harga minyak mentah dan nilai tukar tetap saja subsidinya Rp. 1000/liter. Hampir pasti ini linglung.

Di atas kesalahan itu lalu dijalankan aksi lain yang lebih konyol adalah menghitung nilai subsidi yang diberikan.

Mulai dari asumsi bahwa harga minyak naik menjadi 90 dolar per barel, nilai tukar Rp. 14.750/USD. Tapi subsidi BBM malah menurun dari Rp. 149 triliun menjadi Rp. 138 triliun. Sementara volume distribusi BBM meningkat.

Misalnya volume BBM jenis solar sebesar ditetapkan sebanyak 17,0 juta kiloliter dan minyak tanah sebesar 0,5 juta kiloliter; dan (4) volume LPG tabung 3 kg sebesar 8,0 juta metrik ton. Semuanya naik dibandingkan tahun 2022.

Tetapi anggaran subsidi jenis BBM tertentu dan LPG tabung 3 kg dalam RAPBN tahun 2023 direncanakan sebesar Rp138 triliun atau lebih rendah 7,4 persen apabila dibandingkan dengan outlook tahun 2022 sebesar Rp149 triliun.

Ini sebetulnya bahasa sederhananya adalah mengurang subsidi cukup besar. Misalnya dari sisi volume saja sudah ngaco.

Jika tahun 2022 subsidi 149 triliun untuk 70 juta KL BBM pada tingkat harga minyak 62 dolar per barel dan nilai tukar Rp. 14000/USD.

Sekarang sisa subsidi 138 triliun untuk subsidi 75 juta KL BBM pada tingkat harga 90 dolar per barel dengan kurs Rp. 14750/USD.

After paragraf 28

Memang ini menimbulkan kesan bahwa ini pengurangan subsidi hanya Rp. 11 triliun.

Padahal pertanian digenjet menjual BBM lebih banyak. Faktanya saja seksrang sudah over kuota. Kuota BBM jebol!

Sebetulnya ini adalah pengurangan subsidi yang sangat besar, namun tidak mau dinyatakan secara terus terang. Kesan yang timbul subsidi turun 11 %, faktanya subsidi turun 14%.

-

Jika dihitung berdasarkan harga minyak dan nilai tukar maka akan terjadi pengurangan subsidi BBB yang lebih besar lagi dalam APBN 2023 tersebut.

Tapi sebetulnya percuma juga pake sistem subsidi toh nantinya kompensasi BBM bisa berlipat ganda dibandingkan subsidi itu sendiri. Jadi ini APBN konyol konyolan aja.

Oleh: Salamuddin Daeng, Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI).***

Buat yang hobby berbagi tulisan artikel atau opini (pendapat, pandangan dan tanggapan) ayo menulis, artikel dapat dikirim lewat WhatsApp ke: 0855-7777888.

After 39
Peluang bagi aktivis pers pelajar, pers mahasiswa, dan muda/mudi untuk dilatih menulis berita secara online, dan praktek liputan langsung menjadi jurnalis muda di media ini. Kirim CV dan karya tulis, ke WA Center: 087815557788.

Berita Terkait

Badan Pangan Nasional Apresiasi Sinergi Stakeholder Bangun Stabilitas Jagung dan Perunggasan
Dolar AS Menguat, Harga Eceran Tertinggi MinyaKita Jadi Rp15.700 per Liter, Naik dari Rencana Rp15.500
Komitmen Majukan Industri Konstruksi Baja di Indonesia, PT Garuda Yamato Steel Pamerkan Produk Inovasi
BRI Jalin Kerja Sama dengan Manulife Indonesia, Permudah Pembayaran Premi Asuransi
Beli 2 Unit Kapal Penumpang Baru, PT Pelayaran Nasional Indonesia Usulkan PNM Sebesar Rp2,5 Triliun
Ajang Penghargaan Bisnis Indonesia Award (BIA) 2024, BRI Dinobatkan Sebagai Bank Persero dengan Kinerja Terbaik
PT Sinarmas Asset Management Kolaborasi dengan Artificial Intelligence untuk Hasilkan Return yang Lebih Baik
BNI Loudfest Vol.3 2024 Berakhir Meriah, SUGBK Tetap Terjaga Seluruh Fasilitasnya.
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 23 Juli 2024 - 15:51 WIB

Badan Pangan Nasional Apresiasi Sinergi Stakeholder Bangun Stabilitas Jagung dan Perunggasan

Sabtu, 20 Juli 2024 - 08:06 WIB

Dolar AS Menguat, Harga Eceran Tertinggi MinyaKita Jadi Rp15.700 per Liter, Naik dari Rencana Rp15.500

Sabtu, 13 Juli 2024 - 07:46 WIB

Komitmen Majukan Industri Konstruksi Baja di Indonesia, PT Garuda Yamato Steel Pamerkan Produk Inovasi

Rabu, 10 Juli 2024 - 18:38 WIB

BRI Jalin Kerja Sama dengan Manulife Indonesia, Permudah Pembayaran Premi Asuransi

Rabu, 10 Juli 2024 - 10:01 WIB

Beli 2 Unit Kapal Penumpang Baru, PT Pelayaran Nasional Indonesia Usulkan PNM Sebesar Rp2,5 Triliun

Selasa, 9 Juli 2024 - 13:00 WIB

Ajang Penghargaan Bisnis Indonesia Award (BIA) 2024, BRI Dinobatkan Sebagai Bank Persero dengan Kinerja Terbaik

Selasa, 9 Juli 2024 - 11:29 WIB

PT Sinarmas Asset Management Kolaborasi dengan Artificial Intelligence untuk Hasilkan Return yang Lebih Baik

Minggu, 7 Juli 2024 - 21:10 WIB

BNI Loudfest Vol.3 2024 Berakhir Meriah, SUGBK Tetap Terjaga Seluruh Fasilitasnya.

Berita Terbaru