Masihkah Telkom Dimiliki Milik Negara Indonesia, Setelah Pemerintahan Jokowi Bubar?

- Pewarta

Kamis, 16 Juni 2022 - 11:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Telkom Indonesia Ambil Alih Saham PT Sigma Cipta Caraka. (Dok. kominfo.go.id)

Telkom Indonesia Ambil Alih Saham PT Sigma Cipta Caraka. (Dok. kominfo.go.id)

BISNIS NEWS – Cari uang dengan menjual aset dan IPO, itulah yang dilakukan PT Telkom untuk menghasilkan uang.
Pada Agustus 2021 Telkomsel menjual 4.000 menara lagi ke Mitratel.

Selanjutnya Telkom berencana memonetisasi sebagian sahamnya di Mitratel melalui IPO. Inilah modus utama telkom cari uang yakni jual aset, lalu privatisai melalui IPO.

Perusahaan PT Telkom menghadapi takdir yang cukup berat. Utang jatuh tempo sebesar Rp27 triliun dan kewajiban sewa sebesar Rp6 triliun selama 12 bulan ke depan (oktober 2022).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk mengatasi masalah ini Telkom sudah pasti akan mengandalkan pinjaman dari bank lokal yang selama merupakan pemberi pinjaman kepada Telkom untuk mengatasi utang perusahaan dalam mata uang asing.

Perusahaan menumpuk utang dan melakukan langkah bisnis yang mengkuatirkan.

Salah satunya adalah melakukan akuisisi yang didanai utang besar yakni membeli Gojek senilai USD450 juta pada November 2020.

Di Gojek perusahaan ride-hailing dan local payment yang belum pernah untung dalam bisnisnya.

Seperti diberitakan media Singapura The Business Times bahwa – Telkomsel telah menginvestasikan tambahan US$300 juta (S$398 juta) ke Gojek start-up ride-hailing, dengan rencana untuk memperkuat kolaborasi mereka yang sudah ada.

Telkomsel yang disebut anak perusahaan Telkom Indonesia dan Singtel Singaoura telah menginvestasikan US$150 juta pada November tahun lalu (tahun 2020) di Gojek.

Telkom kembali heboh karena melalui anak usahanya Telkomsel membeli saham GoTo senilai Rp. 6,3 triliun perusahaan gabungan Gojek dan Tokopedia yang ditenggarai masih ada masalah dengan UU anti monopoli Indonesia.

Ini suntikan apa lagi? Kebijakan ini tampaknya akan berhadapan dengan Pansus di DPR.

Saham Telkom di Gojek selanjutnya akan di IPO atau dijual untuk mendapatkan uang kembali. Cara dapat uang yang cepat dengan cara menjual aset yang baru saja dibeli.

Sama seperti aksi aksi perusahaan sebelumnya jual aset, aquisisi, lalu IPO. Keuntungannya lalu dibagi bagikan kepada pemegang saham. Siapa mereka ini?

Tidak sampai disitu, Telkom rencana melakukan merger dengan PT Indosat Tbk (BBB/AAA(idn)/Rating Watch Negative) dan PT Hutchison 3 Indonesia (Hutch).

Konon katanya aksi perusahaan untuk memperkuat pangsa pasar. Telkom merger dengan perusahaan yang lebih lemah, yang rating negatif.

Lalu kemudian IPO. Apakah ini bukan cara menjual ke swasta dengan cara murah?

Ingat telkomsel anak perusahan Telkom, sekarang sahamnya sisa separuh milik telkom. Sebanyak 35% saham Telkomsel milik Singapore Telecommunications Limited (A/Stabil).

Rilisbisnis.com mendukung program publikasi press release di media khusus ekonomi & bisnis untuk memulihankan citra yang kurang baik ataupun untuk meningkatan reputasi para pebisnis/entrepreneur, korporasi, institusi ataupun merek/brand produk.

Lalu bagaimana dengan utang Telkom dan Telkomsel yang juga dimiliki oleh modal asing. Berapa sudah modal asing asing yang andill dalam perusahaan telekomunikasi Indonesia?

Jika aksi perusahaan terus berlanjut yakni aksi menumpuk utang, lalu akusisi perusahaan yang lemah dan rugi, lalu jual murah aset, lalu IPO.

Pertanyaannya? Masihkan PT. Telkom milik Indonesia setelah pemerintahan Jokowi bubar nanti? Sekarang aja kita tidak tau telkom dan telkomsel sebenarnya milik siapa? Siapa dapat apa?

Ingat ini era digitalisasi, negara telah berubah menjadi negara digital. Masihkan Indonesia berdaulat?

Oleh: Salamuddin Daeng, Peneliti pada Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI).***

Berita Terkait

Komitmen Majukan Industri Konstruksi Baja di Indonesia, PT Garuda Yamato Steel Pamerkan Produk Inovasi
BRI Jalin Kerja Sama dengan Manulife Indonesia, Permudah Pembayaran Premi Asuransi
Beli 2 Unit Kapal Penumpang Baru, PT Pelayaran Nasional Indonesia Usulkan PNM Sebesar Rp2,5 Triliun
Ajang Penghargaan Bisnis Indonesia Award (BIA) 2024, BRI Dinobatkan Sebagai Bank Persero dengan Kinerja Terbaik
PT Sinarmas Asset Management Kolaborasi dengan Artificial Intelligence untuk Hasilkan Return yang Lebih Baik
BNI Loudfest Vol.3 2024 Berakhir Meriah, SUGBK Tetap Terjaga Seluruh Fasilitasnya.
Termasuk Proyek Investasi Hilirisasi, Pabrik Kaca Asal Korea Selatan Mulai Berproduksi pada Agustus 2024
Di Product Development Conference 2024, BRI Tampilkan Perjalanan Transformasi Digital
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juli 2024 - 07:46 WIB

Komitmen Majukan Industri Konstruksi Baja di Indonesia, PT Garuda Yamato Steel Pamerkan Produk Inovasi

Rabu, 10 Juli 2024 - 18:38 WIB

BRI Jalin Kerja Sama dengan Manulife Indonesia, Permudah Pembayaran Premi Asuransi

Rabu, 10 Juli 2024 - 10:01 WIB

Beli 2 Unit Kapal Penumpang Baru, PT Pelayaran Nasional Indonesia Usulkan PNM Sebesar Rp2,5 Triliun

Selasa, 9 Juli 2024 - 13:00 WIB

Ajang Penghargaan Bisnis Indonesia Award (BIA) 2024, BRI Dinobatkan Sebagai Bank Persero dengan Kinerja Terbaik

Selasa, 9 Juli 2024 - 11:29 WIB

PT Sinarmas Asset Management Kolaborasi dengan Artificial Intelligence untuk Hasilkan Return yang Lebih Baik

Minggu, 7 Juli 2024 - 21:10 WIB

BNI Loudfest Vol.3 2024 Berakhir Meriah, SUGBK Tetap Terjaga Seluruh Fasilitasnya.

Kamis, 4 Juli 2024 - 10:38 WIB

Termasuk Proyek Investasi Hilirisasi, Pabrik Kaca Asal Korea Selatan Mulai Berproduksi pada Agustus 2024

Rabu, 3 Juli 2024 - 10:40 WIB

Di Product Development Conference 2024, BRI Tampilkan Perjalanan Transformasi Digital

Berita Terbaru