Lomba Kuliner Tradisional Semarakkan Festival Isen Mulang 2019

0
9

Liputan6.com, Jakarta Lomba Kuliner Tradisional memberi warna lain pada perhelatan Festival Isen Mulang 2019. Kegiatan yang berlangsung tanggal 17-24 Juni ini benar-benar semarak dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat setempat.

Satu kuliner tradisional yang diolah peserta adalah makanan yang disebut ‘Kenta’. Terbuat dari beras ketan (pulut) yang dicampur parutan kelapa muda dan sedikit gula merah. Sangat sederhana. Tapi rasanya unik dan bikin ketagihan. Tekstur beras ketannya agak keras, karena tidak dimasak dengan metode kukus atau ditanak. Melainkan dengan cara disangrai.

Ketua Pelaksana Calendar of Event Kemenpar Esthy Reko Astuty mengatakan, lomba kuliner ini berbeda dengan lomba sejenis. Jika umumnya peserta membawa makanan jadi, di sini seluruh peserta ‘memasak’ di tempat. Bahkan mulai dari menumbuk padi untuk menghasilkan beras, juga dilakukan di lokasi. Setelah padi berubah beras, barulah disangrai dan diolah ke tahap-tahap selanjutnya hingga tersaji hidangan bernama Kanta.

“Panitia sengaja membuat ketentuan memasak di tempat, agar pengunjung tahu bagaimana masyarakat Dayak membuat salah satu makanan favoritnya. Cita rasa Kenta dominan manis, sehingga disukai semua kalangan termasuk anak-anak,” ujarnya, Kamis (20/6).

Tak sampai di situ, penyajiannya pun masih mempertahankan cara tradisional. Kenta tidak disuguhkan menggunakan piring, tetapi dengan rangkaian janur (daun kelapa muda) yang dibentuk menyerupai mangkuk. Ini seolah menegaskan bahwa masyarakat Dayak benar-benar hidup dengan memanfaatkan kekayaan Alam.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani menambahkan, potensi alam Kalimantan Tengah memang menjadi harapan masyarakat setempat untuk kelangsungan hidup. Dewasa ini, potensi-potensi tersebut juga dikemas menjadi destinasi wisata favorit. Dari sektor kuliner, diharapkan juga mampu mengundang rasa penasaran banyak orang untuk datang.

“Sebenarnya banyak kuliner Kalteng yang disukai banyak orang, yang akhirnya membuat daerah ini makin dikenal. Selain Kenta, ada Juhu Umbut Rotan, Wadi, Juhu Kujang, dan lain-lain,” ungkapnya.

Juhu umbut rotan adalah makanan khas Kalimantan Tengah yang menggunakan ujung rotan yang masih muda. Proses pembuatan makanan tradisional ini membutuhkan tenaga ekstra pada saat menghilangkan duri-duri yang mengitari batang rotan. Rotan muda tersebut kemudian dipotong kecil-kecil dan diberi bumbu rempah. Umbu rotan bisa dimasak santan ataupun tidak. Umumnya, penyajian umbu rotan dilakukan bersama kuliner lain misalnya ikan patin atau nila bakar.

Sementara Wadi, merupakan fermentasi ikan air tawar. Meski menjadi hidangan favorit masyarakat setempat, belum tentu untuk pendatang. Wadi atau dibuat melalui proses yang cukup rumit selama kurang lebih dua hari dua malam sebelum disantap. Hampir segala jenis ikan sungai bisa dijadikan wadi, tergantung selera pembuatnya. Ikan yang sudah menjadi wadi bisa tahan hingga berbulan-bulan, bahkan tahunan.

“Wadi menawarkan cita rasa asam yang unik. Banyak penduduk Palangkaraya yang melakukan uji coba terhadap penambahan bahan, agar cita rasa wadi bisa diterima oleh lidah seluruh masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Selanjutnya juhu kujang, adalah masakan berbahan dasar keladi. Tanaman ini sudah lama digunakan oleh masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah untuk obat-obatan herbal serta bahan membuat masakan tertentu. Termasuk juhu kujang.

“Juhu kujang berarti gulai keladi. Di dalamnya juga terdapat bahan tambahan seperti ikan dan racikan bumbu-bumbu tertentu. Serta tambahan santan kelapa dan daun nangka muda yang dipotong kecil-kecil,” terangnya, diamini Asdep Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar Adella Raung.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan, Festival Isen Mulang menjadi momentum yang pas untuk membangkitkan industri pariwisata di Kalimantan Tengah. Kegiatan ini kental dengan nuansa budaya yang dikemas dengan standar nasional.

Kalteng harus bangkit dan berkibar seperti daerah lain. Konsep acaranya sudah bagus. Sekarang yang dibutuhkan adalah branding secara masif. Kemenpar akan bantu itu. Tapi, penyelenggara festival ini juga harus aktif. Manfaatkan semua jenis media, termasuk media sosial,” terangnya