Kisah Tentang Blok Rokan yang Kini Jadi Tumpuan untuk Kejar Target Poduksi Minyak Nasional

- Pewarta

Rabu, 8 Maret 2023 - 13:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Blok Rokan yang Kini Jadi Tumpuan untuk Kejar Target Poduksi Minyak Nasional. (Dok. Indonesia.go.id)

Blok Rokan yang Kini Jadi Tumpuan untuk Kejar Target Poduksi Minyak Nasional. (Dok. Indonesia.go.id)

Oleh: Salamuddin Daeng, Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

BISNISNEWS.COM – Wah! kasus kasus pajak mulai banyak beredar, viral, pemicunya orang pajak menjadi sorotan publik karena mereka kaya raya.

Dugaan banyak sekali pajak yang harus dibayarkan perusahaan di Indonesia namun tidak sampai ke kas negara, entah belok kemana? Atau jangan jangan tidak dibayarkan.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berbeda dengan swasta, BUMN lain lagi ceritanya, mereka menjadi sasaran pajak. Banyak sekali pajak atau bagian negara lainya yang telah dibayarkan oleh BUMN.

Pada saat yang sama mereka diminta bekerja keras, termasuk mencari uang, memburu investasi, mencari utang, mengejar untung dengan segala macam cara, agar dapat mencapai tujuan pemerintah.

Kenyataan yang cukup berat dihadapi oleh BUMN migas, terutama mereka yang bahu membahu di hulu migas.

Ditekan dengan target produksi satu juta barel minyak sehari yang nantinya diharapkan akan menjadi kebanggasn pemerintah Jokowi.

Usaha paling berat dialami oleh Pertamina Hulu Rokan (PHR) . Mereka sekarang menjadi tumpuan pemerimtah untuk mengejar target produksi minyak nasional 1 juta barel sehari.

Padahal blok rokan hanya warisan ladang sumur tua warisan chevron, dengan segudang masalah termasuk limbah perusahaan warisan pemain lama yang harus diatasi dengan tenaga yang besar.

Bukan hanya harus berkontribusi bagi peningakatan produksi minyak nasional, namun blok Rokan juga harus berkontribusi terhadap pendapatan negara baik pajak maupun non pajak.

Rokan digenjot bekerja demi tercapainya keduanya yakni produksi naik tapi pendapatan negara juga harus naik yang disetor oleh blok Rokan.

Dua hal yang tentu bertentangan. Blok Rokan sedang menghadapi penurunan almaiah produksi minyak atau natural declining, karena memang sumurnya sudah tua.

Usaha mempertahankan produksi yang tetap besar yang membutuhkan ekspansi investasi, peningkatan biaya, berlawanan dengan tekanan untuk menyetorkan uang yang banyak kepada pemerintah.

Ruwet memang investasi migas, dari luar berhadapan dengan tekanan isue transisi energi, dari dalam dipalaki dengan pajak dan iuran macam macam oleh pemerintah.

Di awal blok Rokan telah membayar biaya tandatangan menteri ESDM senilai 750 juta dolar untuk mendapatkan alih kelola blok rokan dari tangan Chevron.

Setelah blok migas ini dipegang PHR, datanglah berbagai pajak dan pungutan yang harus dibayar. Ibarat kios baru benahi tempat duduk sudah datang preman memalaki minta setoran.

Setahun terakhir sudah Rp. 40 triliun dibayarkan oleh Pertamina Hulu Rokan kepada pemerintah. Dana yang cukup besar yang seharusnya bisa menjadi tenaga buat perusahaan untuk memompa minyak untuk keamanan operasi minyak.

Namun sayangnya uang itu harus berpindah ke tangan pemerintah dan rokan harus memburu investasi, pinjaman, agar tetap bisa membiayai pengeboran dan mempertahankan stabilitas lebih dari 11 ribu sumur minyak yang sudah mulai kehilangan daya dan tenaga.

Seharusnya pemerintah tidak kekurangan uang jika kasus kasus pajak sumber daya alam yakni batubara, nickel, sawit, dibereskan agar tata kelolanya semakin baik, transparan dan adil.

Namun sayangnya pemerintah malah kere ditengah pesta pora pengusaha sawit, batubara dan nickel.

Mungkin karena penguasa sumber daya alam tersebut adalah orang orang kuat di republik ini. Jadi pemerintah tidak berdaya. Kalau memalaki BUMN ya itu sepertinya sudah tradisi. ***

Klik Google News untuk mengetahui aneka berita dan informasi dari editor Bisnisnews.com, semoga bermanfaat.

Berita Terkait

Bank Jakarta Libatkan Persija dan Jakmania dalam Program Inklusi Keuangan di Jakarta
Atasi Masalah Makanan Tumpah Saat Pengiriman, Inovasi Kemasan Presisi Jadi Solusi Restoran
Mengapa Sekolah di Indonesia Butuh Teknologi Manajemen Transportasi Real-Time Canggih Sekarang
Perkuat Valuasi Brand Jelang 20 Tahun Berkarya, Whitecyber Amankan Legalitas Merek Nasional
Kelola Persediaan dan Stock Opname dengan Software Akuntansi Kledo
INALUM Tancap Gas Investasi 2026, Perluas Smelter dan Refinery untuk Perkuat Hilirisasi Aluminium Nasional
Tingkatkan Akurasi Kehadiran dengan Software Absensi Karyawan dari HashMicro
Mengapa Cluster Perumahan Butuh Jasa Angkut Sampah?

Berita Terkait

Rabu, 18 Februari 2026 - 23:52 WIB

Bank Jakarta Libatkan Persija dan Jakmania dalam Program Inklusi Keuangan di Jakarta

Kamis, 12 Februari 2026 - 11:22 WIB

Atasi Masalah Makanan Tumpah Saat Pengiriman, Inovasi Kemasan Presisi Jadi Solusi Restoran

Selasa, 20 Januari 2026 - 09:55 WIB

Mengapa Sekolah di Indonesia Butuh Teknologi Manajemen Transportasi Real-Time Canggih Sekarang

Senin, 19 Januari 2026 - 19:13 WIB

Perkuat Valuasi Brand Jelang 20 Tahun Berkarya, Whitecyber Amankan Legalitas Merek Nasional

Senin, 29 Desember 2025 - 09:59 WIB

Kelola Persediaan dan Stock Opname dengan Software Akuntansi Kledo

Berita Terbaru

Press Release

Roborock Jadi Merek Robot Pembersih Pintar No. 1 di Dunia Menurut IDC

Jumat, 13 Mar 2026 - 13:29 WIB