Oleh: M. Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia

BISNISNEWS.COM – Pertemuan G20 di Bali mendatang akan menjalin kesatuan persatuan di negara-negara mampu dan kaya termasuk Indonesia. Itu artinya Mampu dari sudut ekonomi dan ukuran lainnya.

Tetapi juga harus diakui, Pertemuan G20 yang akan berlangsung nanti boleh disebutkan sebagai pertemuan G20 yang paling dilematis. Mungkin juga yang paling “ribet”.

Dari beberapa pertemuan G20 terdahulu tidak menemui banyak hambatan, terakhir di Argentina. Tetapi yang di Bali ini akan menghadapi banyak kendala karena adanya perang dan juga masalah-masalah perdagangan.

Amerika bertentangan dengan Turki dan China serta terakhir malah dengan Arab Saudi. Putin bersengketa dengan negara-negara Eropa sehingga terjadilah krisis ekonomi dunia belakangan ini.

Ini artinya pertemuan G20 yang akan berlangsung nanti tidaklah mulus. namun kita bersyukur pertemuan G20 itu akan dihadiri oleh semua negara anggota, mulai dari kepala negara, dan tingkat menteri-menteri.

Kita malah mengharap Indonesia bisa mendamaikan dengan baik para kepala negara anggota G20 misalnya Putin dengan Biden. Walaupun pastinya itu bukanlah hal yang mudah.

Pertemuan lanjutan setelah G20 nanti akan tergantung pada Putin sebagai kepala negara, apakah dia akan menghentikan perang atau tidak.

Tetapi yang menjadi dilema adalah jika Putin menghentikan perang maka dia juga akan diberhentikan karena dianggap kalah.

Jadi saat ini pun jika ada masalah perekonomian dengan terjadinya inflasi dan krisis gandum, energi, maka penyelesaiannya sangat tergantung dari apakah perang Rusia dan Ukraina akan berhenti atau tidak.

Jika bisa dihentikan, maka krisis pangan berupa gandum dari Ukraina apakah akan bisa kembali diekspor. Demikian pula gas dari Rusia bisa kembali mengalir ke Eropa dan negara yang membutuhkan.

Sehingga dengan demikian ekonomi dunia akan terhindar dari resesi berat dan sebagainya. Hal-hal itulah yang akan dihadapi oleh pertemuan G20 mendatang.

Bagi Indonesia, tentu menjadi tantangan dan dilema tersendiri karena ketika Indonesia menjadi Presidensi G20 kebetulan pula konflik-konflik dan dilema antar negara itu terjadi.

Padahal pada pertemuan-pertemuan G20 sebelumnya lancar-lancar saja dan banyak dicapai kesepakatan. Tentu saja tidak semua bisa disepakati karena kepentingan tiap negara pasti berbeda-beda.

Tetapi yang harus disadari adalah pertemuan G20 itu sendiri amat berpengaruh terhadap perekonomian dunia

Karena 60-70% ekonomi dunia dipengaruhi oleh negara-negara kuat anggota G20.

Maka dari itu, apabila 60-70% ekonomi dunia itu terpecah maka perekonomian internasional sudah pasti akan terganggu.

Hal itulah yang menjadi pokok dari pertemuan G20, artinya, apabila tidak dicapai kesepakatan untuk menghentikan perpecahan maka ekonomi dunia akan tetap menghadapi risiko-risiko.

Krisis ekonomi dunia akibat pandemi covid19 saat ini relatif sudah teratasi. Jumlah pasien di rumah-rumah sakit dunia akibat covid 19 juta telah jauh berkurang.

Itu artinya, ekonomi dunia paska krisi covid 19 sebetulnya mempunyai peluang perbaikan yang dapat diharapkan.

Namun, konflik-konflik antar negara saat ini kembali menjadi tantangan baru perekonomian dunia.

Namun demikian, untuk wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia, dampak konflik antar negara saat ini tidaklah seburuk di belahan dunia yang lain.

Ramalan World Bank bahkan mengatakan perekonomian Vietnam bisa tumbuh 7,5%, Filipina 7%, Malaysia 6,4% dan Indonesia 5%.

Jadi sebenanya di ASEAN Indonesia nomor 4. Itu artinya, Indonesia mempunyai peluang untuk menyusul kinerja perekonomian negara tetangga di ASEAN.

Dengan terjadinya krisis pangan dan energy dunia saat ini, buktinya Indonesia bisa mengisi kebutuhan dunia akan minyak sawit dan batubara dengan harga yang naik tinggi.

Hal itu tentunya akan menghasilkan keuntungan yang sangat tinggi bagi pengusaha dan bagi negara mendapatkan keuntungan pajak ekspor hampir Rp400 triliun yang dapat membantu mengurangi defisit perekonoman.

Diharapkan neraca perdagangan Indonesia juga akan membaik surplus.

Jadi sebetulnya di tengah krisis di berbagai wilayah saat ini, akan memberikan peluang bagus jika negara itu mampu untuk mengisi peluang-peluang yang ada.

Terbukti Vietnam saja bisa memanfaatkan krisis dunia. Maka bagi Indonesia harus dilakukan evaluasi agar momentum ini dapat dijadikan peluang yang baik.

Bagi Indonesia dan ASEAN krisis dunia tidaklah berpengaruh banyak. Indonesia sendiri energy tidak masalah.

Listrik PLN surplus dan batubara naik tinggi harganya. Indonesia juga baru saja mendapatkan penghargaan untuk swasembada pangan beras.

Itu artinya Indonesia tidak terpengaruh oleh resesi dunia yang sedang melanda negara-negara Eropa.

Jadi dalam situasi ini hendaknya kita tidak usah pesimis. Seolah olah krisis ini adalah krisis yang menjadi masalah besar bagi Indonesia.

Pengalaman lalu pada 2008 krisis subprime mortgage yang menyebabkan perekonomian USA jatuh, Indonesia masih bisa selamat dan perekonomian masih bisa tumbuh 4,5 %.

Memang saat itu turun dari 6% tetapi dalam waktu satu tahun mampu bangkit lagi ke 6%. Jadi, mari kita selalu optimis, karena krisis ekonomi dunia tidak berarti tersambung ke negara dan belahan lain dunia. Tidak seperti itu.

Dalam krisis mata uang misalnya nilai Dollar yang sedang naik. Pengalaman krisis terdahulu juga bagi daerah-daerah penghasil komoditas di luar Jawa malah kesempatan meraih keuntungan besar. Bahkan bisa mengisi kebutuhan di pulau Jawa.

Artikel berdasarkan resume ceramah M. Jusuf Kalla dalam Diskusi Panel “Global Economy: Reflections and Challenges for Indonesia Post G20 Presidency” tanggal 2 November 2022 yang diselenggarakan oleh Universitas Paramadina dan KAS. ***

Klik Google News untuk mengetahui aneka berita dan informasi dari editor Bisnisnews.com, semoga bermanfaat.